Gue barusan liat sesuatu yang bikin otak gue error. Sebuah hoodie limited edition brand ternama. Yang versi kain dan jahitan, harganya Rp 300.000. Yang versi digital… cuma file 3D buat avatar lo di game… harganya Rp 3.000.000.
Bener. Lo bayar 10x lipat untuk baju yang gak bisa lo pake nongkrong di mall, gak bisa lo rasakan bahannya, dan cuma bisa lo pamerin di layar. Ini inovasi atau sebentuk kegilaan kolektif?
Ternyata, setelah gue selami, logikanya nggak sesimpel “yang fisik vs digital”. Ini soal digital cloning bukan sekadar duplikat, tapi menciptakan sebuah artifact budaya yang sama sekali baru.
Kenapa Harganya Bisa Lebih Mahal? Ini Bukan Soal Bit dan Pixel
Alasannya nggak cuma satu. Ini gabungan dari psikologi, ekonomi langka, dan nilai sosial yang berubah.
1. Kelangkaan yang Disengaja (Artificial Scarcity)
Brand luxury dari dulu main di bidang ini. Kanvasnya terbatas. Tapi di dunia digital, dimana file bisa diduplikasi tanpa batas? Mereka menciptakan kelangkaan dengan blockchain. Setiap digital cloning item punya sertifikat kepemilikan unik (NFT) yang jumlahnya dibatasi. Misal, cuma 100 item yang akan pernah ada. Lo bukan cuma beli “baju”, tapi beli slot di komunitas eksklusif. Itu hoodie 3 juta tadi cuma ada 50 unit di seluruh metaverse. Sementara yang fisik, meski ‘limited’, bisa produksi ribuan.
2. Tanda Status di Komunitas Baru
Lo bisa aja pake jam Rolex fisik, tapi di komunitas gaming atau virtual world, yang diliat ya avatar lo. Di ruang rapat virtual atau konser digital, outfit lo adalah billboard diri lo sendiri. Itu jaket digital seharga 3 juta itu bukan fungsi, tapi sinyal. Sinyal bahwa lo paham budaya ini, punya uang, dan punya selera. Ibaratnya, bayar mahal untuk username yang keren atau skin legendaris di game. Nilainya ada di pengakuan sosial.
3. “Kepemilikan” vs “Akses”
Baju fisik itu bisa aus, ketinggalan mode, atau lo jual lagi. Tapi aset digital yang berbasis blockchain itu milik lo sepenuhnya, selamanya, dalam kondisi sempurna. Dia bisa jadi sejarah—item pertama dari kolaborasi brand A dengan game B. Konsep “koleksi” di sini sangat kuat. Menurut laporan platform virtual item, 65% pembeli item fashion digital di atas $200 adalah kolektor, bukan sekadar gamers.
Contoh Nyata di Lapangan Digital
- Contoh 1: The Gucci Virtual Bag. Gucci pernah jual tas virtual di game Roblox. Harganya di pasar sekunder sempat melampaui harga tas fisiknya di dunia nyata. Orang rela bayar Rp 50 juta lebih untuk sebuah aksesori pixel. Kenapa? Karena cuma sedikit yang punya. Karena itu jadi flexing tertinggi di platform itu.
- Contoh 2: Nike Digital Sneakers. Mereka nggak hanya jual sepatu fisik. Tapi juga “skin” sepatu yang sama untuk avatar di game tertentu. Pembeli yang koleksi fisiknya, pasti pengen versi digitalnya juga untuk kelengkapan. Ini jadi paket “kepenuhan” identitas.
- Contoh 3: Brand Lokal yang Nyemplung. Ada brand streetwear lokal yang jual kaos fisik 250rb. Mereka kolaborasi dengan artist 3D bikin versi “holographic” dan “animated” buat metaverse. Cuma 25 copy, laku 2,5 juta per item. Pembelinya? Bukan anak game, tapi kolektor seni digital yang lihatnya sebagai karya seni bergerak.
Salah Kaprah Terbesar Soal Fashion Digital
Kesalahan paling umum adalah ngebandingin harga per bahan. “Lah, kan cuma file, masa lebih mahal dari kain?” Itu pemikiran usang. Ibarat nanya “Lah, lagu kan cuma file MP3, masa lebih berharga dari kaset fisik?” Nilainya ada di pengalaman, akses, dan komunitas.
Kesalahan lain: beli karena tren doang. Banyak yang beli item digital mahal-mahal tapi nggak pernah dipake karena nggak aktif di komunitas virtualnya. Akhirnya cuma numpuk di wallet. Itu sama aja boong, mending beli yang fisik.
Tips Kalau Lo Minat Tapi Gamau Gagal Fomo
- Invest di Komunitas, Bukan di Item. Jangan beli item mahal kalau lo nggak jadi bagian komunitas yang ngasih nilai pada item itu. Itu jaket 3 juta jadi berharga karena ada 100 orang lain yang ngerti dan ngelihatnya. Kalo lo sendirian, percuma.
- Riset Sejarah dan Masa Depannya. Item digital yang bisa jadi aset biasanya dari brand yang punya visi jangka panjang di ruang digital. Atau hasil kolaborasi dengan artist yang kredibel. Jangan asal beli item dari brand yang cuma numpang lewat.
- Pahami Utility-nya. Item itu bisa dipake di beberapa platform (interoperable)? Atau cuma di satu game doang yang bisa mati 2 tahun lagi? Nilainya beda jauh.
- Mulai dari yang Kecil. Kalo mau coba, jangan langsung gebyah 3 juta. Coba beli item digital murah dulu, rasakan gimana rasanya “memiliki” dan memamerkan aset virtual. Apakah lo dapet kepuasannya?
Jadi, apa digital cloning fashion ini masa depan atau kegilaan? Mungkin keduanya. Ini adalah masa depan bagi mereka yang hidupnya sudah hybrid—di mana identitas online sama pentingnya, bahkan lebih, daripada offline. Ini kegilaan bagi yang masih memandang nilai dari sekedar materi dan fungsi.
Tapi satu yang pasti: nilai itu diciptakan, bukan given. Dan di era baru ini, kita semua lagi menyaksikan lahirnya sebuah logika nilai yang sama sekali baru.