Avatar-mu Pakai Baju Baru Tiap Hari. Tapi Bumi yang Nanggung Biayanya.
Kamu yang main game metaverse atau Roblox pasti sering lihat: toko virtual penuh baju, sepatu, aksesori keren. Harganya cuma 100-500 kredit, setara beberapa ribu rupiah doang. Beli, ganti, besok beli lagi. Gak ada yang terbuang di lemari digital, kan? Jadi pasti ramah lingkungan.
Eits, tunggu dulu. Skandal “fast fashion” di metaverse ini baru mulai terkuak. Dan ironinya bikin ngeri: usaha kita buat tampil stylish di dunia virtual ternyata nyakitin dunia nyata dengan dua cara: lewat jejak karbon yang gila, dan eksploitasi manusia di balik layar.
Lapisan Pertama: Kerusakan itu Nyata, Cuma Nggak Kelihatan
- “Server” itu Bukan Awan. Dia Gudang Raksasa yang Haus Listrik.
Setiap asset baju digital yang kamu beli—yang modelnya cuma data—disimpan di server cloud. Server itu perlu tempat fisik: gedung besar ber-AC super dingin biar servernya nggak meledak. Nah, listrik buat nerawangin gudang data ini sebagian besar masih dari batu bara. Sebuah studi independen ngehitung, transaksi satu item NFT pakaian sederhana di blockchain Ethereum bisa menghabiskan energi setara dengan menyalakan TV selama 8 jam. Kalau dikali jutaan transaksi beli asset murah meriah setiap hari? Itu jejak karbon yang nggak main-main. - Blockchain dan “Sampah Digital” yang Abadi.
Kalau di dunia nyata kamu bisa donasi baju lama, di blockchain, data itu terukir selamanya. Kamu nggak pakai lagi? Asset itu tetap ada di ledger, makan tempat di jaringan, tetap perlu energi untuk dipertahankan. Jadi, “lemari” digital kita itu sebenarnya tumpukan “sampah data” yang terus membesar dan menyedot energi.
Lapisan Kedua: Manusia di Ujung Rantai yang Dibayar Murah
Ini yang lebih memilikan. Untuk memproduksi ribuan asset pakaian murah itu, butuh seniman 3D.
- “Digital Sweatshop” di Balik Marketplace Populer.
Banyak marketplace asset virtual yang modelnya seperti Fiverr atau Freelancer. Seorang seniman 3D dari negara berkembang ditawari kontrak: buat 50 model baju dengan kualitas “game-ready” dalam 3 hari. Bayarannya? Flat $50 untuk semuanya. Itu berarti $1 per model. Padahal, bikin satu model yang bagus bisa makan waktu 4-5 jam. Untuk bertahan, mereka harus kerja 18 jam sehari, jiwa dan raga. Tenggat waktu nggak manusiawi, tanpa jaminan kesehatan. Survei informal di forum seniman 3D menunjukkan 7 dari 10 yang mengerjakan asset metaverse murah mengalami burnout parah dalam 6 bulan pertama. Mereka adalah buruh pabrik di era digital. - Pencurian Karya dan “Asset Flipping”.
Karena tekanan menghasilkan banyak model cepat, beberapa “factory” digital melakukan asset flipping. Mereka beli model dasar murah di platform lain, ubah sedikit warnanya atau tambah aksesori kecil, lalu jual sebagai “karya orisinal” baru. Ini merugikan seniman asli dan membanjiri pasar dengan barang berkualitas rendah yang bikin metaverse terasa murahan. Tapi yang penting, produksinya cepat dan murah. - Ilusi “Kepemilikan” yang Tidak Memberdayakan.
Kamu pikir dengan beli asset, kamu mendukung seniman? Belum tentu. Di banyak platform, seniman cuma dibayar sekali di awal saat assetnya dibeli oleh platform. Setiap kali asset itu dijual lagi ke pengguna lain (resold), seniman tidak dapat royalti. Jadi, model ekonominya persis seperti fast fashion: produsen (seniman) dibayar murah, perantara (platform) yang mendapat keuntungan berulang dari penjualan ulang.
Lalu, Kita Bisa Apa? Nggak Mungkin Keluar dari Internet.
Bisa. Langkah kecil yang lebih sadar.
- Kurangi “Impulse Buying” Digital: Perlakukan belanja di metaverse seperti di dunia nyata. “Apa aku benar-benar butuh baju ke-15 ini, atau cuma lapar akan notifikasi ‘pembelian berhasil’?” Pilih kualitas over kuantitas.
- Dukung Platform dengan Model Royalti untuk Seniman: Cari tahu. Platform apa yang memberikan royalti penjualan ulang ke seniman asli? Prioritaskan belanja di sana, sekalipun harganya sedikit lebih mahal. Itu investasi pada ekosistem yang sehat.
- Pilih Game/Metaverse yang Tidak Berbasis Blockchain Proof-of-Work: Blockchain jenis Proof-of-Stake (seperti yang dipakai Solana atau Ethereum 2.0) jauh lebih hemat energi. Atau, platform sentralisasi biasa (seperti Roblox) sebenarnya punya jejak karbon per transaksi yang lebih kecil, walau tetap ada.
- Hargai Karya dengan Menelusuri Kredit Seniman: Kalau suka sebuah item, coba cari siapa pembuatnya. Follow mereka di media sosial. Apresiasi langsung ke seniman itu lebih bernilai daripada sekadar klik “beli”.
- “Digital Minimalism” untuk Avatar: Keren nggak selalu berarti banyak item. Coba konsep “capsule wardrobe” untuk avatar-mu. Beberapa item high-quality yang bisa mix and match.
Common Mistakes yang Justru Memperparah:
- Berpikir “Ini Cuma Digital, Jadi Nggak Ada Ruginya”: Itu pemikiran yang salah. Ada rugi lingkungan dan kemanusiaan. Sadari itu.
- Membeli Asset Hanya Karena “Murah” dan “Limited Edition” FOMO: Ini pola konsumsi yang sama persis yang merusak di dunia nyata, cuma dipindahkan ke digital.
- Mengabaikan Asal Usul Asset: Asal bisa dapat yang murah dan keliatan ok, nggak peduli siapa yang bikin dan dalam kondisi seperti apa. Mentalitas ini yang membuat eksploitasi terus berlangsung.
Skandal fast fashion di metaverse ini membuktikan satu hal: mentalitas konsumtif kita nggak hilang ketika pindah ke dunia digital. Dia hanya berubah bentuk, dan seringkali jadi lebih kejam karena tersembunyi di balik layer kode dan animasi lucu.
Kita bisa pilih: tetap jadi bagian dari masalah, atau jadi pengguna yang lebih sadar. Avatar-mu mungkin abadi di cloud. Tapi planet tempat server itu berdiri, nggak.