Pernah nggak sih, kamu ngelihat tas mewah Bottega Veneta atau jaket high-end Balenciaga, trus mikir “wah ini pasti kulit sapi atau bahan sintetis mahal”? Eh, ternyata sekarang mulai banyak lho, brand-brand gede itu pakai bahan dari jamur. Iya, jamur. Tapi bukan yang buat dimasak, melainkan akarnya yang namanya mycelium. Dan ini bukan cuma iseng, tapi tren Bio-Couture yang lagi naik daun!
Gue dulu juga skeptis sih. Bayangin, jaket atau tas dari jamur? Pasti kelihatan kayak anyaman kardus atau gimana gitu. Tapi pas liat-liat koleksinya, gue kaget banget. Malah kelihatan mewah dan estetik banget. Ini membongkar stigma lama bahwa pakaian ramah lingkungan itu membosankan, dan ini bukti nyata perkawinan antara high fashion dan ekologi hidup.
Mycelium: Si “Internet Alam” yang Jadi Bahan Mewah
Sebelum bahas koleksinya, kita kenalan dulu sama si mycelium. Ini adalah jaringan akar jamur yang tumbuh di bawah tanah, sering disebut sebagai “internet of the natural world” karena menghubungkan berbagai tumbuhan . Nah, para ilmuwan dan desainer mulai memanfaatkan struktur seratnya yang kuat dan fleksibel buat dijadikan bahan kayak kulit atau kain.
Teknologi pengolahannya juga makin canggih. Ada metode tradisional dengan menumbuhkan mycelium di atas nampan, dan sekarang ada metode baru yang lebih canggih lagi dari Finlandia. Mereka menumbuhkan jamur di tangki fermentasi kayak bikin bir, hasilnya jadi bubur (pulp) yang kemudian dipress jadi lembaran kulit . Hasilnya? Bahan yang kekuatannya sama kayak kulit sapi, tapi bisa hancur secara alami dalam 6 minggu di kondisi kompos industri . Bayangin, tas mewah yang kamu pake 10 tahun, pas udah rusak tinggal di-kompos, balik lagi ke alam! Ini sih zero-waste beneran.
3 Contoh Nyata: Dari Runway ke Tangan Kamu
Biar nggak cuma teori, gue kasih tiga contoh nyata yang udah diproduksi dan dijual di dunia nyata.
1. Bottega Veneta & Ephea: Tenunan Mewah dari Jamur
Bottega Veneta, brand mewah di bawah Kering, baru aja rilis koleksi terbatas barang-barang kecil (small leather goods) dengan anyaman intrecciato yang ikonik. Tapi bahan utamanya bukan kulit sapi, melainkan Ephea, bahan berbasis mycelium buatan startup Italia, SQIM . Ini bukan coba-coba, lho. Kering, induk Bottega Veneta, malah ikut investasi di SQIM, dan targetnya ambisius: 40% koleksi ready-to-wear Kering harus dari bahan alternatif pada 2035 . Artinya, di masa depan, bukan cuma tas, tapi jaket, celana, dan sepatu mewah bisa dari jamur!
2. Balenciaga & AMSilk: Sutra Lab yang Lebih Ramah Lingkungan
Di sisi lain, Balenciaga juga nggak mau ketinggalan. Di koleksi Spring 2026, mereka pake bahan yang lebih canggih lagi: sutra bio-engineered dari AMSilk. Ini bukan mycelium, tapi protein yang direkayasa dari lab . Yang bikin keren, produksi sutra ini menghabiskan 97% lebih sedikit air dan emisi 81% lebih rendah daripada sutra alami . Bayangin, kamu pake blus atau baju yang keliatan mewah, tapi jejak karbonnya kecil banget. Ini era baru fashion berkelanjutan yang nggak kompromi sama estetika.
3. Stella McCartney & Mylo: Pelopor yang Tetap Berjuang
Stella McCartney emang pelopor banget dalam hal ini. Sejak 2022, dia udah bikin tas Frayme Mylo dari bahan mycelium . Mylonya dikembangin sama startup Bolt Threads, dan prosesnya disebut “DNA-verified vegan” . Sayangnya, Bolt Threads sempat berhenti produksi karena masalah pendanaan di tahun 2023 . Tapi ini nunjukkin, perjalanan bio-couture itu nggak mulus. Ada pasang surut, ada yang bangkrut, ada yang bertahan. Tapi semangatnya tetap hidup karena emang ini arah yang benar.
Common Mistakes: Hal yang Sering Salah Dipahami
Biar kamu nggak salah kaprah, ini beberapa hal yang sering salah dimengerti tentang bio-couture:
- “Bahan jamur itu cuma buat tas dan sepatu murah aja.”
Eits, salah besar. Bottega Veneta aja pake buat koleksi limited edition, Balenciaga pake sutra lab buat koleksi Spring 2026 . Ini adalah bahan premium yang dianggap setara dengan kulit sapi dan sutra asli. - “Pakaian ramah lingkungan = style-nya ngebosenin.”
Ini stigma yang dibongkar sama Bio-Couture. Justru kolaborasi sama desainer terkenal dan inovasi material bikin pakaian ini jadi lebih eksklusif dan artistik . Ada yang bilang, inovasi ini “not limiting excellence — we are expanding it” . Keren banget kan? - “Semua mycelium leather itu sama.”
Nggak juga. Ada Ephea, Mylo, dan material lain yang proses produksinya beda. Bahkan di Finlandia, ada metode pulp baru yang lebih scalable dan punya kontrol lebih besar atas tekstur dan warna . - “Ini cuma tren sesaat.”
Meskipun ada startup yang gulung tikar (seperti Bolt Threads yang berhenti produksi Mylo), komitmen dari fashion house besar kayak Kering Group justru makin kuat. Mereka menargetkan 40% dari koleksi mereka terbuat dari bahan alternatif pada 2035 . Ini sinyal bahwa bio-couture adalah masa depan jangka panjang, bukan iseng.
Practical Tips: Menjadi Konsumen Bio-Couture Bijak
Mau ikut tren ini tapi masih bingung mulai dari mana? Ini tips buat kamu:
- Cari Tahu Brand yang Punya Koleksi Berkelanjutan: Mulai perhatikan brand yang punya komitmen terhadap inovasi material. Bottega Veneta, Balenciaga, dan Stella McCartney adalah contoh yang udah jalan. Kalau budget kamu nggak setinggi itu, cari brand lokal yang mulai pakai bahan organik atau daur ulang.
- Baca Label dan Cerita di Baliknya: Kalau beli barang, jangan cuma lihat harga dan model. Cari tahu bahannya. Misalnya, di deskripsi produk, kadang disebut “made from Ephea” atau “bio-engineered silk”. Ini penting buat tahu dampak lingkungan yang kita hasilkan.
- Dukung Riset dan Inovasi Lokal: Di luar negeri, riset mycelium leather didukung penuh oleh pemerintah, seperti di Finlandia . Kita sebagai konsumen bisa mendukung dengan membeli produk-produk inovatif dan menyebarkan informasi tentang material ramah lingkungan.
- Jangan Takut dengan Harga: Memang, inovasi material seperti Ephea atau Mylo masih tergolong mahal karena biaya riset dan produksinya yang belum massal . Tapi, kalau kamu anggap ini sebagai investasi untuk masa depan fashion yang lebih baik, ini adalah langkah kecil yang berarti.
Jadi, Bio-Couture Bukan Sekadar Mode, Tapi Revolusi!
Menurut gue, ini bukan cuma tren sesaat, tapi perubahan fundamental dalam cara kita melihat fashion. Bio-couture membuktikan bahwa pakaian ramah lingkungan bisa se-stylish dan semenarik produk-produk mewah konvensional.
Dengan brand sebesar Bottega Veneta dan Balenciaga ikut serta, serta target ambisius dari Kering Group, jelas ini adalah jalan yang akan terus ditempuh. Mungkin sekarang harganya masih mahal, tapi dengan riset yang terus berkembang, terutama metode pulp dari Finlandia yang lebih scalable, bahan ini akan semakin terjangkau di masa depan .
Jadi, mulai sekarang, yuk kita ubah cara pandang kita tentang “fashion berkelanjutan”. Bukan lagi identik dengan desain kaku, bahan kaku, dan penampilan yang kuno. Tapi mulai dari sekarang, bio-couture udah hadir sebagai simbol bahwa estetika kelas atas dan kepedulian ekologis bisa berjalan beriringan. 😉
Gimana, apakah kamu tertarik untuk memiliki produk fashion berbahan mycelium? Atau kamu masih skeptis? Share pendapatmu di kolom komentar, yuk!